Hitam-putihnews.com – Siapa Biang Kerok dari bobroknya kualitas pendidikan di negara kita Indonesia? sebelum kita bahas siapa biang keroknya, kita ulas dulu kualitas pendidikan kita ini sejauh apa.
Dilansir dari tvonenews.com bahwa praktisi pendidikan Muhammad nur rizal menyebut pendidikan di Indonesia kalah jauh dibanding negara-negara di dunia, bahkan selama hampir 20 tahun kemampuan literasi kita berada di bawah kompetensi minimum.
Muhammad nur rizal juga menjelaskan bahwa data yang lebih ekstrem, menyebutkan jika kemampuan literasi lulusan sarjana di Indonesia masih kalah dibanding lulusan SMP di negara Denmark.
Hal ini berdasarkan data dari OECD untuk test programme for the international assessment of adult competencies atau PIAAC.
Jika berbicara soal kualitas pendidikan di Indonesia, berdasarkan Penelitian Seorang Profesor di Harvard, Indonesia memerlukan waktu hingga 128 tahun untuk mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan dengan negara maju.
Miris sekali, untuk mengubah kualitas guru yang ada di Indonesia saat ini, dibutuhkan waktu satu abad lebih.
Itu baru penelitian dan data dari OECD, nah bagaimana soal peringkat Indonesia ini?
Peringkat kualitas pendidikannya OECD itu memiliki sebuah standarisasi untuk menilai Bagaimana sistem pendidikan di suatu negara. Apakah berkembang atau tidak, apakah baik atau tidak.
Skor PISA (programming for International student assessment) di Indonesia itu tidak pernah keluar dari peringkat 15 terburuk dari 80-an lebih negara yang ikut menjadi peserta dalam tes PISA ini.
Apa kata pemerintah atau pejabat kita soal hal ini?
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo yang dilansir dari majalah Tempo, menyebutkan bahwa capaian skor Pisa tidak bisa digunakan untuk mengukur dampak kebijakan kurikulum Merdeka, lantaran pada 2020 terjadi pandemi, ukurannya adalah asesmen nasional yang sama dengan Pisa, namun asesmen nasional mencakup dua poin saja, yaitu matematika dan membaca.
Membaca pada asesmen nasional ini bukan literasi membaca seperti standarnya PISA (standar internasional), yang membedakan bagaimana orang Indonesia tuh mudah sekali termakan hoax atau mudah sekali ketipu sama influencer-influencer yang ngomong sembarangan di luar sana.
Literasi itu berbeda dengan sekedar membaca dan pejabat kita enggak mau pakai PISA sebagai standarisasi, dikarenakan hanya untuk mempertahankan nama baik kurikulum merdeka.








