Pasar Malam Depan Pondok Pesantren Ahmad Dahlan Tuai Sorotan, Kacang Berhadiah Diduga Jadi Akar Masalah

IMG 20260807 WA0006
Diduga kacang berhadiah di pasar malam simpang tiga Teluk Kuantan terindikasi perjudian

KUANTAN SINGINGI – Sebuah permainan berhadiah yang digelar di arena Pasar Malam Mentari Antar Nusa, kawasan Simpang Tiga Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, menjadi sorotan masyarakat. Permainan tersebut diduga mengandung unsur perjudian karena mengharuskan pengunjung membeli sebungkus kacang yang berisi kupon berhadiah untuk memperoleh kesempatan memenangkan hadiah.

Berdasarkan pantauan di lokasi, penyelenggara menjual kacang dalam bungkus berwarna biru. Di dalam setiap bungkus terdapat dua butir kacang beserta satu kupon berkode. Pembeli yang memperoleh kode tertentu berhak menukarkan kupon tersebut dengan hadiah yang telah disediakan.

Hadiah yang dipajang di lokasi cukup menarik perhatian, mulai dari kulkas, mesin cuci, kipas angin, dispenser, kompor gas, rak serbaguna, hingga berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Mekanisme permainan inilah yang kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat.

Sejumlah masyarakat Teluk Kuantan menilai bahwa khusus stand kacang berhadiah yang ada di pasar malam Mentari Antar Nusa sangatlah meresahkan, karena sejumlah warga menilai bahwa permainan tersebut terindikasi perjudian yang berkedok kacang berhadiah.

“Puluhan tahun lalu waktu saya masih remaja tahun 90-an, stand kacang pak ogah yang digelar di setiap pasar malam selalu ramai, namun seiring berkembangnya intelektualitas masyarakat dan para tokoh di Kuansing, pada tahun 2000-an  stand kacang berhadiah selalu diprotes para tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuka agama juga para ulama. belasan tahun berjalan, stand kacang pak ogah itu muncul lagi sekarang di pasar malam itu” ucap beberapa warga Teluk Kuantan kepada Hitam Putih News.

Keberadaan Pondok Pesantren yang berada persis di depan pasar malam itu, dinilai warga juga telah mencederai identitas pusat pendidikan agama islam dan syiar Islam di kota Teluk Kuantan.

Bacaan Lainnya

“Rabu 5/8/26 kemarin, Forkopimda beserta seluruh elemen masyarakat, seperti tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama telah sepakat bahwa tidak boleh ada pekat di Kuansing. Namun keputusan rapat yang telah disepakati bersama seluruh elemen itu seolah dianggap angin lalu, apa pemuka agama dan pemerintah daerah tidak malu kepada santri dan santriwati yang ada di pondok pesantren depan pasar malam itu” tanya sejumlah emak-emak kepada Hitam Putih News.

Keberadaan stand permainan tersebut juga menuai kritik karena lokasinya berada tepat di depan sebuah pondok pesantren. Sejumlah warga menilai kondisi itu mencederai citra kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan agama Islam dan syiar Islam di Kota Teluk Kuantan.

“Kami tidak menolak kehadiran wahana hiburan pasar malam di negeri kami, namun menurut kami, permainan kacang kupon hadiah itu sepertinya terindikasi perjudian. Pasalnya pembeli mengeluarkan uang bukan semata-mata untuk membeli kacang, melainkan karena berharap mendapatkan hadiah yang nilainya jauh lebih besar melalui kupon yang terdapat di dalam bungkus berisi dua butir kacang tersebut. Unsur untung-untungan itu yang menjadi persoalan” ujar salah seorang warga Teluk Kuantan.

Jika dicermati, memang permainan tersebut diduga memiliki unsur perjudian dalam bentuk mengundi nasib. Pembeli mengeluarkan sejumlah uang bukan untuk membeli barang secara langsung, melainkan mengharapkan hadiah yang besar atau keuntungan berlipat berdasarkan untung-untungan lewat membeli dua butir kacang yang di dalam bungkusnya ada kupon berhadiah.

Publik berharap agar para tokoh dan pemimpin negeri untuk menyikapi hal yang juga berkaitan dengan penyakit masyarakat (pekat) ini. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara pasar malam maupun instansi terkait mengenai mekanisme permainan tersebut dan legalitas pelaksanaannya.

Pos terkait