KUANTAN SINGINGI – Prestasi di level internasional tak selalu berbanding lurus dengan perhatian pemerintah daerah. Hal inilah yang dirasakan Cici Herfiyuli (28), atlet sepak takraw putri asal Kenegerian Kopah, Desa Titian Modang, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Cici merupakan salah satu atlet yang tergabung dalam Tim Nasional Sepak Takraw Indonesia dan berhasil menyumbangkan medali perunggu pada SEA Games Thailand 2025.
Namun ironisnya, sepulang membela Merah Putih, Cici mengaku tidak mendapatkan apresiasi apa pun dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi.
“Sebagai atlet tentu saya ingin diapresiasi. Tidak harus berupa uang, bisa pekerjaan yang layak, perhatian, atau bentuk lain. Tapi sampai sekarang dari Pemkab tidak ada sambutan ataupun apresiasi sama sekali,” ujar Cici saat diwawancarai.
Perjalanan Panjang Penuh Prestasi
Nama Cici Herfiyuli bukan sosok baru di dunia sepak takraw nasional. Ia telah menorehkan berbagai prestasi sejak satu dekade terakhir, di antaranya emas Kartini Cup 2015, emas Porwil Babel 2015, perak PON Jabar 2016, emas Prapon Sukabumi, hingga perunggu PON Aceh–Sumut 2024. Puncaknya, Cici akhirnya menembus pelatnas dan tampil di SEA Games 2025 Thailand.

“Alhamdulillah, akhirnya diberi kesempatan membela Merah Putih. Itu cita-cita yang sudah lama saya impikan. Momen paling berkesan saat berdiri di podium dan menyumbangkan medali untuk Indonesia,” ungkapnya.
Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan duka. Indonesia harus puas dengan perunggu usai kalah dari Vietnam di laga krusial.
Berangkat Seleknas Pakai Biaya Sendiri
Di balik prestasi tersebut, Cici mengungkapkan perjuangan berat yang harus ia lalui, bahkan sejak tahap seleksi nasional. Ia mengaku berangkat seleknas dengan biaya pribadi, tanpa sokongan pemerintah daerah.
“Berangkat seleknas pakai biaya sendiri. Modalnya cuma semangat dan tekad. Dari 17 atlet, hanya 12 yang diambil. Tekanan dan kesulitannya luar biasa,” katanya.
Selama pemusatan latihan (TC) di Bandung pun, Cici menyebut tidak ada dukungan dari Pemkab Kuansing maupun pemerintah provinsi. Ia benar-benar berjuang secara mandiri bersama rekan-rekannya.
Lebih menyakitkan lagi, setelah dinyatakan lolos ke timnas, respons dari pihak daerah justru terhenti.

“Pelatih dari kabupaten sempat bertanya lolos atau tidak. Setelah saya bilang lolos timnas, pengurus Pemkab diam sampai sekarang,” ujarnya.
Apresiasi Datang dari Camat dan Pusat, Bukan Pemkab
Ironisnya, bentuk apresiasi justru datang dari tingkat kecamatan dan pemerintah pusat. Cici mengaku pertama kali diapresiasi oleh Camat Kuantan Tengah bertepatan dengan momen Hari Ibu, melalui ibunya di kampung.
Selain itu, ia juga mendapat sambutan dari Kadispora Provinsi Riau dan KONI Riau, serta apresiasi langsung dari Presiden RI. Namun dari pemerintah kabupaten asalnya, tak satu pun bentuk penghargaan diterimanya.
“Dulu pernah video call dengan Pak Bupati dan Wakil Bupati, cuma bilang semangat dan sabar. Setelah itu tidak ada kelanjutan sampai sekarang,” ungkap Cici.
Kondisi ini membuat Cici mempertanyakan keadilan dan konsistensi perhatian pemerintah daerah terhadap atlet.
Dugaan Ketimpangan dan Faktor Politik
Cici tak menampik adanya dugaan perbedaan perlakuan terhadap atlet. Ia mencontohkan atlet dari cabang lain yang disambut dan diapresiasi langsung oleh kepala daerah setelah mengharumkan nama Indonesia.
“Jujur saja, jadi terlintas pikiran apakah ada perbedaan, atau disangkutkan dengan politik? Entahlah, itu yang jadi tanda tanya besar,” kata Cici dengan nada bertanya.
Menurutnya, minimnya dukungan membuat banyak atlet Kuansing memilih pindah ke daerah lain yang lebih menghargai prestasi.
“Kurangnya support yang konsisten membuat atlet lari ke kabupaten lain yang lebih mengapresiasi,” tegasnya.
Sepak Takraw Masih Dianaktirikan
Cici juga menyoroti minimnya perhatian terhadap cabang olahraga sepak takraw. Fasilitas latihan yang seadanya, bola rusak, hingga pencahayaan minim di GOR menjadi gambaran keseharian atlet.
“Dengan fasilitas seadanya, kami tetap berlatih dan berprestasi. Tapi masih ada perbedaan perlakuan antara sepak takraw dengan cabor lain,” ujarnya.
Dampak Serius bagi Regenerasi Atlet Daerah
Cici menilai sikap pemerintah daerah yang abai dapat berdampak serius terhadap masa depan olahraga di Kuansing. Atlet muda berpotensi kehilangan motivasi karena tidak melihat jaminan masa depan.
“Banyak orang tua tidak merestui anaknya jadi atlet karena takut ujung-ujungnya jadi pengangguran,” katanya.
Ia bahkan memperingatkan, tanpa perhatian serius, Kuansing bisa kehilangan atlet potensial dan tertinggal jauh dari daerah lain.

Pesan Tegas untuk Pemerintah
Cici berharap pemerintah, baik kabupaten, provinsi, maupun pusat, lebih memperhatikan kesejahteraan atlet yang telah mengharumkan nama daerah dan bangsa.
“Perhatikan kesejahteraan atlet, bisa lewat jatah PNS, Polri, atau umrah gratis. Supaya atlet lebih semangat dan tidak terlantar,” pintanya.
Ia juga menekankan bahwa membesarkan nama daerah tidak hanya lewat budaya Pacu Jalur saja, tetapi juga melalui prestasi atlet di kancah internasional.
“Bukan bermaksud menyalahkan budaya, tapi seharusnya disuport secara seimbang,” tegas Cici.
Tetap Bertahan Demi Harga Diri Anak Daerah
Meski tanpa apresiasi dari Pemkab, Cici memilih tetap bertahan dan berprestasi. Baginya, tujuan utama adalah membanggakan keluarga dan membuktikan bahwa anak daerah mampu bersaing di tingkat dunia.
“Tugas saya sebagai atlet sudah saya laksanakan. Ke depan, semoga ada perhatian luar biasa dari Pemkab untuk generasi muda yang berkarya,” tutupnya.





