Teluk Kuantan – Suasana semarak menyelimuti Desa Pulau Aro, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, pada Rabu malam (4/6), saat digelarnya tradisi melayur jalur, ritual sakral dalam proses pembuatan perahu tradisional yang dikenal sebagai jalur.
Kegiatan ini berlangsung di kawasan Jalan jalur dua simpang empat pulau aro Wisma Hasah, tepatnya dekat pangkal jembatan menuju seberang Taluk.
Jalur yang dilayur malam itu bernama “Tuah Inayan Mandulang Untuang“, sebuah nama yang kembali menggema setelah sebelumnya mencetak sejarah sebagai juara pertama pada Festival Pacu Jalur Tingkat Nasional di Tepian Narosa pada tahun 2017. Jalur ini merupakan generasi keempat dari nama yang sama.
Kayu yang digunakan untuk pembuatan jalur tersebut berasal dari jenis marsawa dengan panjang 34 meter. Kayu itu ditebang dan diambil langsung dari Hutan di Kecamatan Hulu Kuantan.
“Kalau kayunya kita mendapatkan di kecamatan Hulu Kuantan” ujar Sutan Sihen warga Pulau aro saat diwawancarai Hitam Putih News Rabu malam.
Herlianto Kepala Desa Pulau Aro menyebut jika Proses pengolahan jalur dikerjakan oleh tukang berpengalaman bernama Dison, yang telah lama dikenal dalam komunitas pembuat jalur tradisional.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah, di antaranya Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby, anggota DPRD Kuansing Dasber Librian Vea, serta para kepala desa se-Kenegerian Teluk Kuantan. Kehadiran mereka menjadi bukti dukungan terhadap pelestarian budaya dan semangat kebersamaan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, panitia berhasil menggalang dana sebesar Rp127 juta untuk mendukung proses pembuatan jalur hingga rampung dan siap berlaga.
Herlianto juga menyampaikan harapannya ke publik agar jalur kebanggaan kenegerian Teluk Kuantan ini kembali berjaya di ajang Pacu Jalur 2025 nanti.
“Mudah-mudahan jalur kebanggan desa kami ini, juga kebanggan masyarakat kenegerian teluk kuantan ini kembali menjuarai event di tepian Narosa 2025,” ujar Herlianto penuh harap.

Tradisi melayur jalur bukan sekadar ritual teknis, melainkan juga menjadi momen spiritual dan sosial yang menyatukan masyarakat dalam satu tujuan mengharumkan nama kampung di arena pacu jalur, juga merupakan warisan budaya tak benda yang telah mengakar dalam jiwa masyarakat Kuansing.





