ROKAN HILIR – Menjelang tahun ajaran baru 2025/2026, keresahan mulai dirasakan para orang tua murid di Kabupaten Rokan Hilir. Beban biaya pendaftaran, pembelian seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah menjadi momok tersendiri, khususnya bagi keluarga kurang mampu.
Dewi (38), seorang janda dengan dua anak asal Dusun Pematang Padang, mengaku kelimpungan memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Ia berharap pemerintah daerah menepati janji kampanye yang pernah disampaikan saat pemilihan kepala daerah lalu.
“Alangkah baiknya kalau janji Bupati dan Wakil Bupati tentang seragam sekolah gratis itu bisa segera diwujudkan,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Dewi yang sehari-hari bekerja serabutan mengatakan, bantuan seragam akan sangat meringankan beban ekonomi keluarganya. Keluhan serupa juga disampaikan Izul (31), seorang buruh tani di wilayah yang sama.
“Semoga janji kampanye itu benar-benar ditepati. Kalau seragam sekolah bisa gratis, itu sangat membantu kami masyarakat kecil,” katanya.
Program seragam gratis merupakan salah satu janji unggulan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hilir pada Pilkada sebelumnya. Namun hingga kini, program tersebut belum juga terealisasi, memicu kekecewaan di tengah masyarakat.
Tokoh agama setempat, Ucok Martex, turut angkat suara terkait pentingnya dukungan pemerintah terhadap dunia pendidikan.
“Pendidikan itu hak semua anak. Jangan sampai ada yang putus sekolah hanya karena tidak punya seragam,” tegasnya.
Memasuki masa pendaftaran sekolah, sejumlah kelompok masyarakat dan tokoh lokal mulai mendesak pemerintah daerah agar segera mengimplementasikan program bantuan pendidikan. Mereka juga menolak segala bentuk pungutan yang dianggap membebani orang tua siswa.
Warga berharap, janji politik yang dulu disampaikan tidak sekadar menjadi pemanis kampanye, melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak kepada rakyat. (Riki)





