ROKAN HILIR – Layanan kesehatan di Kecamatan Sinaboi kembali menjadi sorotan publik. Puskesmas Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, diduga mengalami keterbatasan stok obat malaria, sementara jumlah pasien yang terkonfirmasi positif penyakit tersebut disebut masih cukup tinggi.
Isu ini mencuat setelah sebuah unggahan di media sosial Facebook yang diposting oleh akun Khairul Anwar pada Sabtu (10/01/2026). Dalam unggahannya, ia mempertanyakan kesiapan Puskesmas Sinaboi dalam menangani pasien malaria di tengah keterbatasan ketersediaan obat.
“Puskesmas Sinaboi kehabisan obat malaria. Sedangkan yang positif masih banyak. Apakah mereka sanggup menunggu obat masuk?” tulis Khairul Anwar.
Unggahan tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, mengingat malaria merupakan penyakit endemik di wilayah pesisir Kabupaten Rokan Hilir yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
Keterlambatan pengobatan dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi pasien serta meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekitar.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Janoko, warga Beringin Jaya, Kepenghuluan Sungai Bakau Kecamatan Sinaboi. Ia mengaku sempat berobat ke Puskesmas Sinaboi karena mengalami gejala malaria, namun diinformasikan bahwa stok obat sedang tidak tersedia.
“Saya sempat berobat ke Puskesmas Sinaboi, tapi katanya obat malaria habis,” ujar Janoko kepada wartawan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Sinaboi, dr. Sherman Wirly, membantah adanya kekosongan total obat malaria. Ia menjelaskan bahwa hingga Sabtu siang, stok obat masih tersedia meskipun dalam jumlah terbatas.
“Tidak pernah habis total. Obat malaria jenis Primakuin masih tersedia. Untuk jenis DHP memang sempat habis, namun langsung kami upayakan dengan meminjam persediaan dari Puskesmas Bagansiapiapi dan dijemput awal minggu ini,” jelas dr. Sherman.
Ia menambahkan, per Sabtu (10/01/2026) siang, stok Primakuin masih tersedia sebanyak tiga kotak utuh, sementara DHP juga tersedia tiga kotak hasil pinjaman dari Puskesmas Bagansiapiapi.
Selain memberikan klarifikasi, dr. Sherman juga mengimbau masyarakat agar aktif melakukan pencegahan malaria dengan menghindari gigitan nyamuk serta memberantas sarang nyamuk di lingkungan sekitar.
Upaya pencegahan tersebut antara lain dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menguras serta menutup tempat penampungan air, serta tidak membiarkan genangan air di sekitar rumah, saluran air, parit, kolam kebun, maupun lahan pertanian yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk.
“Masyarakat juga disarankan memelihara ikan pemakan jentik seperti ikan cupang, kepala timah, koi, sepat, ikan mas, maupun ikan nila di genangan air,” tambahnya.
Selain itu, ventilasi dan celah rumah dianjurkan dipasangi kawat nyamuk. Pintu dan jendela yang tidak dilengkapi kawat nyamuk sebaiknya ditutup setelah Magrib.
Warga juga diimbau tidur menggunakan kelambu berinsektisida yang telah dibagikan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, puskesmas, maupun kepenghuluan.
“Masyarakat diharapkan menghindari aktivitas di luar rumah setelah Magrib, kecuali untuk kepentingan tertentu, karena nyamuk Anopheles aktif menggigit pada malam hari mulai pukul 18.00 WIB,” ujarnya.
Bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah seperti pedagang, pekerja sawit, dan nelayan, dr. Sherman menganjurkan penggunaan pakaian lengan panjang serta lotion anti nyamuk pada bagian tubuh yang terbuka.





