Korban Penyerangan Anggota TNI Di Deli Serdang, Tangan Nyaris Putus 1 Orang Tewas

Insiden kekerasan yang melibatkan anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan-2/Kilap Sumagan terjadi di Desa Selamat, Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. (kompas/Nikson Sinaga)

Deli Serdang – Insiden kekerasan yang melibatkan anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan-2/Kilap Sumagan terjadi di Desa Selamat, Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, memicu kemarahan warga setempat. Masyarakat menuntut proses hukum bagi para anggota TNI yang terlibat dalam aksi brutal yang mengakibatkan satu korban jiwa dan puluhan lainnya terluka.

Hingga Senin (11/11/2024), delapan warga masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Putri Hijau milik Kodam I Bukit Barisan akibat luka serius yang mereka alami.

Kepala Desa Selamat, Bahrun, menyebutkan bahwa beberapa korban menderita luka parah, seperti tangan nyaris putus, kepala sobek, dan memar di sekujur tubuh. Bahrun berharap agar kondisi mereka dapat pulih setelah menjalani perawatan intensif.

Mengutip kompas.id, Sebagian besar warga yang menjadi korban menyatakan bahwa mereka tidak memahami penyebab serangan tersebut. Beberapa dari mereka bahkan menjadi korban ketika sedang melintasi jalan desa pada malam kejadian, Jumat (8/11/2024).

Salah satu korban, Sri Ulina Perangin-Angin (30), menceritakan bahwa dirinya sedang melintas di jalan Desa Selamat dengan sepeda motor, dan seorang tentara tiba-tiba menendang motornya hingga ia terjatuh ke parit. Sri yang mengalami luka di perut, paha, dan tangan kemudian berlari ke rumah warga untuk menyelamatkan diri.

Korban lain, Rofikar Tarigan (18), menceritakan pengalaman serupa. Ia mengatakan bahwa saat itu baru saja keluar untuk membeli rokok. Saat hendak pulang, ia melihat puluhan anggota TNI memasuki kampung.

Rofikar sempat berlari ke rumah neneknya untuk bersembunyi, namun tentara mendobrak pintu dan menyeretnya keluar. Di luar, Rofikar mengalami pemukulan bertubi-tubi oleh anggota TNI hingga terluka parah, dan kemudian dibawa ke markas Armed-2, di mana ia mengaku diperlakukan seperti penjahat.

Kejadian ini membuat situasi di Desa Selamat mencekam, terutama setelah Raden Barus (60), seorang tokoh masyarakat, ditemukan dalam kondisi mengenaskan di pinggir jalan dengan luka parah di kepala dan wajah lebam. Raden meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, sehingga semakin memicu amarah warga. Mereka bahkan sempat membawa jenazah Raden ke depan Markas Armed-2 sebagai bentuk protes atas tindakan anggota TNI tersebut.

Panglima Kodam I Bukit Barisan, Letnan Jenderal Mohammad Hasan, mengunjungi Desa Selamat untuk bertemu dengan keluarga korban dan meminta maaf secara langsung. Hasan berjanji akan memproses hukum para anggotanya yang terlibat dalam kejadian ini dan memastikan insiden serupa tidak terulang. Berdasarkan data sementara, sekitar 33 anggota TNI diduga terlibat dalam penyerangan ini.

Bahrun kepala desa selamat menjelaskan bahwa warga mendengar informasi adanya cekcok antara seorang anggota TNI dengan warga, yang diduga menjadi pemicu peristiwa ini. Meskipun begitu, warga tetap menuntut keadilan dan meminta agar para pelaku yang terlibat mendapatkan hukuman setimpal sesuai hukum yang berlaku.

Pos terkait