Lumpuh oleh Stroke, Penjual Gado-gado Asal Sungai Nyamuk Bertahan Hidup Seorang Diri

Azman Putra. (Dok. HPNews)

ROKAN HILIR – Hidup Azman Putra kini berjalan pelan, sepelan langkah roda kursi yang setiap hari ia dorong menyusuri jalanan Kota Bagansiapiapi. Pria yang dahulu dikenal sebagai penjual gado-gado asal Kepenghuluan Sungai Nyamuk, Kecamatan Sinaboi itu, kini harus menjalani hidup dalam sunyi setelah hampir tiga tahun terbaring dan lumpuh akibat serangan stroke.

Penyakit itu tidak hanya merenggut kesehatannya, tetapi juga perlahan mengikis semua yang pernah ia miliki. Sejak jatuh sakit, Azman ditinggalkan istri dan anaknya yang memilih menetap di Kota Dumai. Ia pun harus bertahan hidup seorang diri, menumpang di bangunan sempit berukuran sekitar 1 x 2 meter di samping rumah kerabatnya di Jalan Karya Engel, Kepenghuluan Bagan Jawa, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir.

Di ruang kecil itu, Azman menjalani hari-hari dengan keterbatasan. Untuk sekadar menyambung hidup, ia tak punya banyak pilihan. Dengan tubuh yang tak lagi kuat dan tangan yang tak lagi setia digerakkan, Azman setiap hari keluar rumah menggunakan kursi roda, menyusuri Kota Bagansiapiapi dari Jalan Pusara Hilir hingga ke depan Rumah Makan Cilacap di Jalan Sentosa, berharap ada tangan-tangan baik yang sudi memberi sedikit rezeki.

“Kalau tidak keluar, saya tidak makan. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana,” tutur Azman lirih kepada HitamPutih News, Selasa (13/1/2026), matanya berkaca-kaca.

 

Ironisnya, di tengah keterbatasan fisik dan usia yang terus bertambah, beban hidup tak pernah ikut mengecil. Setiap bulan, Azman harus membayar listrik Rp50 ribu, biaya mencuci pakaian Rp200 ribu, serta iuran BPJS Kesehatan Rp175 ribu. Untuk makan sehari-hari pun, ia terpaksa membeli di luar karena tak sanggup memasak sendiri.

Bacaan Lainnya

Padahal, sebelum sakit, Azman bukanlah orang yang hidup dalam kekurangan. Ia pernah menjalani kehidupan yang cukup. Bersama keluarganya di Sungai Nyamuk, Azman berjualan gado-gado dan martabak. Ia memiliki rumah, bahkan kendaraan roda empat. Namun semua itu berubah seketika ketika stroke datang dan meruntuhkan seluruh sendi kehidupannya.

“Semuanya habis dijual,” ucap Azman singkat. Sejak itu, ia hidup sendiri, bertahan dengan sisa tenaga dan harapan yang kian menipis.

Kisah Azman adalah potret sunyi dari wajah kemiskinan dan sakit yang kerap luput dari perhatian. Di tengah ramainya kota dan geliat pembangunan, masih ada warga yang berjuang mempertahankan hidup dalam diam, menunggu kepedulian yang tak kunjung datang.

 

Melalui pemberitaan ini, HitamPutih News berharap hati para pembaca dan dermawan terketuk untuk membantu meringankan beban hidup Azman Putra.

Media ini juga telah berupaya menghubungi Dinas Sosial Kabupaten Rokan Hilir serta Badan Amil Zakat Kabupaten Rokan Hilir (BAZNAS) agar dapat memberikan perhatian dan bantuan, khususnya nafkah rutin, demi keberlangsungan hidup Azman di tengah keterbatasan yang dialaminya.

Pos terkait