Proyek Rp897 Juta di Suak Air Hitam Diduga Janggal: Material Minim, Hasil Tak Sesuai Anggaran

Plank Kegiatan Peningkatan Jalan Suak Air Hitam. (Foto : HPnews)

ROKAN HILIR — Ada banyak cara menghabiskan hampir satu miliar rupiah. Ada yang membangun jembatan, memperbaiki jalan, atau membuat fasilitas publik yang benar-benar terasa manfaatnya. Namun di Suak Air Hitam, Kecamatan Pekaitan, Kabupaten Rokan Hilir, uang sebesar Rp897 juta itu seolah hanya menghasilkan sedikit debu dan beberapa tumpukan tanah kuning. Begitulah kira-kira gambaran proyek peningkatan jalan yang dikerjakan CV. ALNUR tahun anggaran 2025.

 

Menurut data lapangan, pekerjaan dilakukan sepanjang 2 kilometer, dari SK 11 sampai SK 15. Untuk jarak sejauh itu, pihak pelaksana menghadirkan sekitar 100 dump truk tanah timbun. Jumlah yang bagi yang mengerti dunia konstruksi cukup membuat dahi mengernyit. Bahkan masyarakat yang hanya terbiasa gotong royong timbun jalan pun tahu bahwa angka itu tidak masuk akal.

Warga justru menduga bahwa sebagian besar tanah yang digunakan adalah tanah lama, hasil kerja swadaya masyarakat beberapa tahun lalu. Jadi, pertanyaannya: di mana letak “peningkatan” pada proyek peningkatan jalan ini?

 

Jika ada lomba “proyek paling tidak terlihat hasilnya”, kemungkinan besar jalan Suak Air Hitam bisa masuk nominasi kuat. Pasalnya, kondisi setelah pengerjaan lebih mirip dengan kerja bakti mingguan ketimbang proyek APBD ratusan juta.

Bacaan Lainnya

 

Tidak tampak adanya pekerjaan teknis lainnya tidak ada pemadatan berlapis, tidak ada peninggian elevasi signifikan, tidak ada pekerjaan dasar yang biasanya menjadi standar bestek. Bahkan jejak penerapan RAB seolah menguap begitu saja.

Konsultan pengawas dan perangkat teknis pemerintah daerah semestinya menjadi penjaga kualitas. Namun pada proyek ini, pengawasan seperti memilih mode “silent mode”. Jika ada yang melihat pengawas di lokasi, mungkin itu hanya fatamorgana musim kemarau.

 

Lemahnya fungsi pengawasan memberi ruang bagi dugaan bahwa proyek ini berjalan lebih berdasarkan feeling ketimbang spesifikasi teknis.

 

Masyarakat Suak Air Hitam tentu bukan ahli forensik anggaran. Namun mereka cukup pintar untuk menilai bahwa angka hampir Rp1 miliar seharusnya menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar timbunan seadanya.

 

Beberapa pihak bahkan mendorong agar proyek ini diperiksa lebih lanjut, baik oleh auditor maupun aparat penegak hukum. Bukan semata mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan bahwa uang rakyat tidak mengalir ke tempat-tempat yang tidak seharusnya.

 

Masyarakat berharap kasus ini tidak berakhir sebagai wacana belaka. Mereka ingin proyek yang benar-benar membangun, bukan sekadar membangun polemik. Jalan adalah urat nadi mobilitas warga bukan panggung eksperimen anggaran.

 

Warga Suak Air Hitam hanya ingin satu hal yaknk jalan yang layak, bukan drama yang layak tayang.

Pos terkait