Ekonom Sebut Narasi “Sell Indonesia” Tidak Sejalan dengan Data Ekonomi

Myrdal Gunarto. (Istimewa)

JAKARTA – Sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik di tengah ketidakpastian ekonomi global, ditandai dengan terjaganya kondisi fiskal, tingginya minat investor terhadap instrumen keuangan Indonesia, serta terkendalinya pertumbuhan utang luar negeri.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, mengatakan keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai 1,5 miliar dolar AS menjadi indikator kuat bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor internasional.

“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi ‘Sell Indonesia’. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap ‘Buy Indonesia’,” kata Iswadi di Jakarta.

Menurut dia, tingginya minat investor tercermin dari nilai pemesanan obligasi yang mencapai 4,6 miliar dolar AS atau lebih dari tiga kali lipat target awal sebesar 1 miliar dolar AS.

“Jika investor tidak percaya terhadap masa depan ekonomi Indonesia, mustahil permintaan bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat target penerbitan. Ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan pasar masih sangat tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF, Didik J. Rachbini, menilai kondisi fiskal Indonesia hingga Mei 2026 masih berada pada jalur yang sehat.

Bacaan Lainnya

“Saya cermati kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai. Terutama soal defisit sampai Mei 2026 yang terjaga sekitar 0,7 persen terhadap PDB,” kata Didik.

Menurut dia, kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran pada level rendah menunjukkan pengelolaan APBN yang tetap disiplin di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Ia juga menyoroti peningkatan pendapatan negara yang tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026, didorong oleh kenaikan penerimaan pajak sekitar 22 persen.

“Pendapatan fiskal meningkat sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026. Penerimaan pajak naik 22 persen dan menjadi salah satu penopang utama stabilitas fiskal kita,” ujarnya.

Selain itu, pembiayaan fiskal yang telah mencapai Rp379,4 triliun atau sekitar 55,1 persen dari target tahunan dinilai menunjukkan tersedianya ruang pendanaan yang memadai untuk mendukung berbagai program pemerintah.

Di sisi lain, Ekonom, Myrdal Gunarto, menilai risiko utang luar negeri Indonesia masih relatif terkendali karena pertumbuhannya belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Perkembangan utang luar negeri kita memang masih tumbuh secara moderat. Ini mencerminkan ketergantungan yang relatif rendah dari pemerintah maupun sektor swasta terhadap pembiayaan luar negeri,” katanya.

Menurut Myrdal, pelaku usaha masih cenderung berhati-hati melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian global sehingga pertumbuhan utang luar negeri lebih banyak dipengaruhi kebutuhan pembiayaan pemerintah dan refinancing utang yang jatuh tempo.

Ia juga menilai langkah diversifikasi sumber pembiayaan yang dilakukan pemerintah, termasuk melalui penerbitan Panda Bond, merupakan strategi yang positif untuk mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan.

“Panda Bond menjadi alternatif yang menarik karena menawarkan imbal hasil yang relatif kompetitif dibandingkan instrumen utang dalam mata uang lainnya. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan dan APBN,” ujarnya.

Para ekonom menilai berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat dan tetap mampu menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi global.

Pos terkait