Jakarta — Pencapaian swasembada beras nasional dalam satu tahun terakhir menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan pangan Indonesia. Di tengah dinamika global dan tekanan perubahan iklim, kemampuan menjaga produksi sekaligus cadangan beras menunjukkan fondasi sistem pangan nasional yang kian kokoh.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan ketahanan pangan merupakan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan bangsa. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, ia menyebut cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog pada Juni 2025 mencapai 4,2 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah—dan hingga kini tetap berada pada level aman.
Peningkatan produksi turut memperkuat capaian tersebut. Sepanjang 2025, produksi beras nasional tercatat sekitar 34,71 juta ton, naik dari 30,62 juta ton pada 2024 yang sempat terdampak fenomena El Nino. Kenaikan ini dinilai menjadi indikator efektifnya kebijakan penguatan produksi dan stabilitas pasokan.
Peneliti Yayasan Kekal Berdikari, Jan Prince Permata, menilai swasembada pangan memiliki makna strategis yang melampaui persoalan ekonomi semata.
“Tidak ada negara yang benar-benar berdaulat tanpa kemampuan memberi makan rakyatnya sendiri. Ketahanan pangan menyangkut martabat bangsa, stabilitas sosial, dan masa depan pembangunan,” ujarnya.
Menurut dia, pembahasan swasembada tidak bisa dilepaskan dari kondisi petani sebagai aktor utama produksi. Peningkatan output yang konsisten, kata Jan, harus menjadi pijakan awal bagi keberlanjutan kesejahteraan jutaan keluarga petani.
Dari sisi makro, kinerja sektor pertanian juga menunjukkan tren positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,11 persen (year on year), dengan sektor pertanian tumbuh 5,03 persen dan menjadi salah satu penopang stabilitas harga.
Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang 2025 yang konsisten berada di atas 115 turut mencerminkan perbaikan daya beli dan posisi tawar petani, meski tantangan biaya produksi dan fluktuasi harga masih terjadi.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, menekankan pentingnya inovasi untuk menjaga keberlanjutan. Ia menyebut kualitas benih menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas.
“Sekitar 60 persen keberhasilan budidaya ditentukan oleh benih yang baik,” katanya.
Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus melakukan deregulasi dan transformasi menuju sistem pertanian modern berbasis mekanisasi. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menekan biaya produksi, mempercepat distribusi sarana produksi, serta meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
“Dulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” ujarnya.
Pemerintah juga mulai memperluas fokus swasembada ke sejumlah komoditas strategis lain seperti kedelai, bawang putih, bawang merah, dan gula. Diversifikasi ini dinilai penting untuk memperkuat stabilitas harga sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Saat ini, komoditas yang telah mencapai swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Sementara itu, komoditas yang masih dalam tahap penguatan menuju swasembada antara lain bawang putih, kedelai, daging sapi atau kerbau, serta gula industri.
Dengan produksi yang meningkat dan cadangan yang terjaga, swasembada pangan tidak hanya menjadi capaian angka, tetapi juga fondasi bagi keberlanjutan sistem pertanian dan kesejahteraan petani di masa depan.





