Skandal Sawit Ilegal: Mobil Kampung Diduga Jadi Perantara ke PT GSL

PT. Gemilang Sawit Lestari (PT. GSL)
Pabrik kelapa sawit di Inuman PT. Gemilang Sawit Lestari (PT. GSL)

KUANTAN SINGINGI – Pabrik kelapa sawit milik PT. Gemilang Sawit Lestari (PT. GSL) di Kecamatan Inuman kembali menjadi sorotan. Diam-diam, pabrik ini diduga masih menerima Tandan Buah Segar (TBS) yang berasal dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), sebuah kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi dari aktivitas ilegal.

Praktik ini tidak hanya mencederai upaya pelestarian lingkungan tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen perusahaan terhadap hukum dan keberlanjutan.

Menurut informasi yang diterima, modus operandi yang digunakan cukup rapi. Truk-truk pengangkut TBS dari kawasan TNTN diduga sengaja mengganti plat nomor mereka dengan nomor seri dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) untuk menghindari kecurigaan.

Masih tetap masuk juga pak. Mereka ganti plat nomor,” ungkap seorang narasumber kepada wartawan pada Sabtu (11/1/2025) sore.

Narasumber tersebut mengungkapkan bahwa pada Jumat (10/1/2025) menjelang senja, sebanyak enam dump truck penuh TBS dari kawasan TNTN berhasil masuk ke pabrik. Selain itu, ada juga mobil-mobil milik warga lokal yang digunakan untuk mengangkut sawit tersebut, sehingga semakin menyamarkan aktivitas ilegal ini.

Masuknya senja, ada enam dump truk dan terlihat juga yang pakai mobil orang kampung,” tambahnya.

Bacaan Lainnya

Keberadaan TBS ilegal ini diduga berasal dari Toro, salah satu wilayah yang kerap menjadi titik panas perambahan kawasan konservasi TNTN.

Aktivitas ini tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga menciptakan tantangan besar bagi upaya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan di kawasan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Allen Changtino, Asisten Pabrik PT. GSL, belum membuahkan hasil. Pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp hingga kini masih belum direspons dan Panggilan telepon juga tidak direspon. Diamnya pihak perusahaan seolah mempertegas kecurigaan bahwa ada sesuatu yang memang disembunyikan.

Kasus ini kembali membuka mata publik tentang lemahnya pengawasan terhadap aktivitas ilegal di sekitar kawasan TNTN. Perambahan hutan yang terus berlangsung untuk kepentingan industri kelapa sawit tidak hanya mengancam keberlangsungan ekosistem, tetapi juga merugikan negara. Publik kini menanti langkah tegas dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas praktik ilegal ini. Akankah hukum benar-benar ditegakkan, atau praktik semacam ini akan terus berlangsung tanpa akhir?

(Adr)

Pos terkait