KUANTAN SINGINGI – Desain bangunan Astaqa Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Riau Tahun 2026 yang saat ini sedang dibangun Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menjadi sorotan publik.
Perhatian masyarakat muncul setelah beredarnya sejumlah gambar desain Astaqa di sejumlah media yang dinilai berbeda dengan bentuk bangunan yang saat ini sedang dikerjakan di lokasi proyek. Perbedaan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan terkait desain mana yang sebenarnya digunakan sebagai dasar pembangunan proyek yang menelan anggaran APBD Kuansing sebesar Rp4,1 miliar itu.
Sebagaimana diketahui, pada Januari tahun 2026 lalu, Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sempat mempublikasikan desain Astaqa MTQ yang direncanakan menjadi ikon pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Riau di Kuansing. Desain tersebut bahkan dimuat oleh sejumlah media dan menampilkan bangunan dengan tampilan megah, detail arsitektur yang cukup kompleks, serta struktur yang terlihat terdiri dari dua lantai.
Mengutip Kuansingterkini.com, Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ( PUPR) Kuansing, Ade Fahrer Arif menyatakan, desain Astaka sudah disiapkan.
” Sudah ada rencana gambarnya,”katanya, Jumat ( 23/1/26) mengutip kuansingterkini.com
Menurut Ade, panjang bangunan Astaka 30 meter dan lebar 20 meter. Bangunannya terdiri dari dua lantai.
Sementara dari desain yang telah ada, Astaqa berwarna putih dan atap abu-abu itu terdapat satu kubah besar dan 3 kubah kecil. Dibagian kiri dan kanan bangunan Astaqa terdapat tangga seperti ombak yang meliuk liuk.
Namun, seiring berjalannya pembangunan, masyarakat mulai mempertanyakan kesesuaian antara desain yang pernah dipublikasikan pada bulan Januari lalu dengan desain bangunan yang kini telah berdiri di kawasan eks Pasar Bawah Teluk Kuantan.
Berdasarkan pengamatan terhadap bangunan yang sedang dikerjakan saat ini, desain tersebut dinilai jauh lebih sederhana dibandingkan desain yang sebelumnya diperlihatkan kepada publik. Sejumlah elemen dekoratif, detail fasad, serta beberapa bagian arsitektur yang terlihat pada desain awal perencanaan tidak lagi tampak pada bangunan yang sedang dibangun.
“Kalau beberapa bagian arsitektur desainnya berubah, tentunya anggaran yang diserap juga berubah. Kami masyarakat Kuansing perlu mengetahui alasan perubahan tersebut. Apalagi proyek ini menggunakan uang rakyat. Apakah mungkin desainnya berubah di tengah jalan kemudian anggaran yang digunakan juga berubah di tengah jalan? Gak mungkinkan” ujar seorang warga Teluk Kuantan yang enggan namanya disebut.
Keterbukaan informasi sangat penting untuk menghindari munculnya spekulasi di tengah masyarakat. Perbedaan tampilan antara desain awal dan bangunan yang sedang dibangun juga memunculkan pertanyaan mengenai dokumen perencanaan proyek.
Masyarakat menilai perlu ada penjelasan terbuka mengenai kapan perubahan desain dilakukan, siapa yang menyetujui perubahan tersebut, serta apakah perubahan tersebut turut mempengaruhi spesifikasi teknis dan perencanaan anggaran pembangunan.
Pasalnya, desain yang pernah dipublikasikan sebelumnya menampilkan bangunan dengan detail arsitektur yang lebih kompleks. Sementara desain yang belakangan diklaim sebagai desain final terlihat lebih sederhana dan secara visual memiliki lebih sedikit elemen konstruksi.
Saat ini publik mendesak aparat penegak hukum agar turut memantau dan mengawal proses pembangunan gedung astaqa MTQ yang telah menelan APBD sebesar 4,1 milyar rupiah itu.
Keterbukaan informasi tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pelaksanaan proyek strategis daerah yang dibiayai menggunakan anggaran pemerintah. Selain itu, transparansi juga diperlukan agar tidak muncul berbagai asumsi dan informasi simpang siur yang beredar di tengah masyarakat terkait desain maupun penggunaan anggaran pembangunan Astaqa MTQ Kuansing.






