Teluk Kuantan, Riau – Keberadaan Rumah Susun (Rusun) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang terletak di Beringin, Teluk Kuantan, saat ini semakin menjadi sorotan publik.
Pasca penyerahan resmi dari Pemerintah Provinsi Riau ke Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kuantan Singingi, bangunan yang awalnya direncanakan sebagai solusi hunian bagi warga berpenghasilan rendah, kini tak terurus dan tak jelas penggunaannya.
Rusun berlantai tiga tersebut, yang dibangun dengan harapan menjadi tempat tinggal layak bagi masyarakat Kuantan Singingi yang berpenghasilan rendah, justru tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Hingga saat ini, Pemda Kuansing belum memberikan kejelasan mengenai langkah yang akan diambil terkait pemanfaatan rusun tersebut. Padahal, sudah banyak warga yang memenuhi kriteria MBR, yang berharap bisa tinggal di rusun ini.
Saat ini, bangunan rusun lebih menyerupai bangunan terbengkalai. Pada malam hari, suasana di sekitar rusun semakin suram akibat tidak adanya penerangan yang memadai. Kondisi gelap gulita ini tak hanya membuat rusun tampak tak terurus, tetapi juga menimbulkan rasa takut bagi warga sekitar. Sejumlah warga Desa Beringin Taluk yang kerap melintas di sekitar bangunan tersebut mengaku merasakan suasana horor saat melewati kawasan itu pada malam hari.
“Setiap kali melewati rusun ini, suasananya benar-benar menyeramkan, apalagi kalau malam. Tidak ada lampu, gelap sekali, dan bangunannya terlihat seperti rumah hantu,” ujar salah satu warga beringin Taluk yang enggan disebutkan namanya.
Jasriadi ST Ketua Lembaga Garuda Sakti (LGS) Kuansing mempertanyakan komitmen Pemda Kuansing dalam memanfaatkan rusun tersebut. Padahal, bangunan rusun ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyediakan hunian layak bagi warga berpenghasilan rendah. Namun, dengan kondisi yang ada saat ini, tujuan tersebut tampaknya belum dapat tercapai.
“Ini sangat disayangkan, seharusnya bangunan ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Banyak masyarakat yang membutuhkan hunian layak, tapi justru bangunan ini dibiarkan begitu saja, kenapa setelah rusun ini diserahkan ke pemda kuansing justru malah tidak diurus dan dihuni? Padahal dulu sebelum rusun ini diserahkan ke pemda kuansing bisa bermanfaat bagi warga Kuansing” ungkap ketua lembaga garuda sakti Kuansing tersebut.
Jasriadi juga mempertanyakan apakah pemda kuansing doyan membuat warga Kuansing yang Berpenghasilan Rendah lebih menderita lagi dengan menyewa kontrakan yang harganya mencapai 600-800 ribu per bulan.
“untuk apa dibuat bangunan rusun itu kalaulah tidak dihuni warga? Apakah pemerintah Kuansing senang ketika rakyatnya yang berpenghasilan Rendah tak bisa menempati rusun tersebut dan menyewa kontrakan dengan harga 600-800 ribu perbulan ? ” ucap jasriadi.
Masyarakat berharap Pemda Kuansing segera mengambil tindakan untuk memanfaatkan bangunan rusun yang sudah diserahkan. Warga berpendapat, rusun tersebut seharusnya dapat dioperasikan dengan baik, dengan melibatkan dinas terkait, agar dapat memenuhi kebutuhan hunian masyarakat. Selain itu, pengadaan fasilitas umum seperti penerangan, air bersih, dan keamanan di sekitar rusun juga perlu menjadi perhatian utama.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemda Kuansing terkait langkah yang akan diambil untuk menangani permasalahan rusun MBR di Beringin ini. Masyarakat menunggu tindakan konkret dari pihak terkait agar bangunan tersebut tidak lagi menjadi simbol terbengkalainya proyek hunian rakyat di Kuantan Singingi.
Dengan semakin mendesaknya kebutuhan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, keberadaan rusun MBR ini menjadi krusial. Namun, tanpa ada perhatian dan langkah nyata dari pemerintah daerah, bangunan tersebut hanya akan menjadi potret kegagalan pengelolaan hunian rakyat yang seharusnya mampu membawa manfaat besar bagi masyarakat Kuantan Singingi.





