Bayangkan sebuah ruangan sel tahanan, jauh dari kemewahan kantor dinas atau ruang rapat paripurna, dimana ego besar berbenturan dengan realitas jeruji besi.
Jika para pejabat yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) ini berkumpul di satu ruangan, dialog mereka kemungkinan besar tidak lagi penuh dengan retorika politik, melainkan campuran antara penyesalan, kepanikan, pembelaan diri, hingga saling menyalahkan.
Disclaimer: “Dialog dalam tulisan ini merupakan dramatisasi rekaan penulis berdasarkan pola kasus korupsi yang sering terjadi, dan tidak mencerminkan percakapan nyata dari figur tertentu.”
Skenario: “Arisan” di Sel Tahanan KPK
Tokoh:
- Budi – Mantan kepala daerah yang tersandung kasus dugaan suap proyek infrastruktur.
- Prabu – Mantan pejabat kementerian yang diduga menerima fee proyek.
- Doni – Mantan anggota dewan yang terjerat dugaan suap pengesahan anggaran.
Suasana: Ruangan gerah, kasur tipis, aroma karbol. Budi duduk menyandar di tembok sambil memijat dahi. Prabu mondar-mandir. Doni duduk di pojokan sambil mengipasi diri dengan majalah usang.
Budi : (Menghela napas panjang) “Apes benar. Padahal tinggal dua bulan lagi masa jabatan saya habis. Semua aman selama lima tahun, hancur dalam satu malam cuma gara-gara urusan tanda tangan proyek jembatan.”
Prabu : (Berhenti melangkah, menatap Budi) “Bapak masih mending, baru sekali ini kena apes. Saya ini cuma menjalankan perintah sistem, Pak. Anggaran dari pusat turun, di bawah sudah ada ‘slot’-nya masing-masing. Kalau saya tidak amankan ‘jatah’ itu, posisi saya yang digeser. Sekarang kalau sudah begini, atasan saya pura-pura tidak kenal.”
Doni: (Terkekeh sinis, melempar majalahnya) “Halah, jangan sok jadi korban sistem, Pak Pejabat. Kita semua di sini karena sama-sama kurang rapi mainnya. Lagipula, saya yakin ini ada unsur politis. Kenapa cuma faksi kami yang diincar? OTT kemarin itu jelas-jelas pesanan untuk menjatuhkan elektabilitas partai saya menjelang pilkada!”

Budi: “Sudahlah, Pak Dewan. Mau pesanan atau bukan, faktanya uang tunai di dalam kardus itu tertangkap tangan di mobil dinas Bapak. Mau mengelak pakai teori konspirasi apa lagi di persidangan nanti?”
Prabu: “Nah, itu dia. Sekarang yang bikin saya tidak bisa tidur itu… siapa yang ‘buka nyanyian’? Tidak mungkin KPK bisa tahu detail jam dan lokasi pertemuan kalau tidak ada orang dalam yang membocorkannya. Saya curiga sama sekretaris saya.”
Doni: “Di dunia kita, tidak ada kawan abadi, yang ada cuma kepentingan abadi. Begitu kita masuk radar, semua orang yang pernah mencicipi duitnya langsung cari aman masing-masing. Mereka pasti jadi justice collaborator buat menyelamatkan leher sendiri. Kita? Ya ditinggal di sini.”
Budi: (Menunduk, suaranya melemah) “Saya cuma bingung bagaimana menjelaskan ini ke keluarga saya. Rumah digeledah, aset disita, media bikin berita di mana-mana. Semua pengabdian saya selama ini langsung hilang, cuma diingat sebagai koruptor.”

Prabu: (Duduk di lantai, pasrah) “Ya… sekarang tinggal pintar-pintar pengacara kita saja nanti di pengadilan. Berharap hakimnya punya ‘pintu maaf’, atau minimal hukumannya tidak sampai menyita seluruh harta. Kalau tidak, miskin tujuh turunan kita.”
Doni: (Kembali bersandar, memejamkan mata) “Selamat datang di realitas baru, rekan-rekan. Di sini, pangkat, jas mahal, dan ajudan sudah tidak berlaku. Yang berlaku cuma satu, siapa yang paling tahan mental menghadapi sidang.”





